Rabu, 17 Februari 2016

TABULAPOT

AGAR TABULAMPOT BERBUAH PRIMA



TABULAMPOT buah terlihat cantik jika buah selalu hadir. Kondisi tanaman harus prima agar dapat berbuah maksimal. Berikut perawatan tabulampot:
1.       Campurkan bahan-bahan media berupa tanah, pupuk kandang, dan sekam secara merata. Media harus ringan dan bebas hama penyakit.
2.       Pupuk tanaman 3 bulan sekali dengan NPK 15-15-15 sebanyak 20-40 gram/pot. Pupuk ditaburkan merata di sekeliling media. Semprotkan pula pupuk daun 2 minggu sekali untuk membantu pertumbuhan. Pada fase vegetative gunakan pupuk daun berkadar N tinggi. Memasuki fase generative, berikan pupuk berkadar P dan K tinggi.
3.       Pangkas tanaman secara rutin dengan membuang ranting atau pucuk sakit, kurus, tidak produktif, atau terlalu panjang. Ranting bekas buah dan cabang liar yang saling bertabrakan atau salah arah juga dipangkas agar muncul tunas-tunas baru produktif pada periode berikutnya.
4.       Semprotkan pestisida 2 minggu sekali bersamaan dengan penyemprotan pupuk daun. Pada musim kemarau tanaman disemprot insektisida untuk menghalau kutu putih, penggerek daun dan penggerek batang. Pada musim hujan giliran fungisida, sebab saat itu tingkat serangan cendawan cukup tinggi.

5.       Periksa kondisi media setiap 6 bulan. Bila terlalu padat harus digemburkan kembali. Kalau perlu media diganti bila kondisinya sudah mengeras.

PGPR


PGPR



PGPR adalah plant growth promoting rhizobacteria :
*        Sejenis bakteriyang hidup di sekitar perakaran tanaman.
*        Bakteri tsb hidupnya berkoloni menyelimuti akar
*        Bagi tanaman sangat menguntungkan dalam proses fisiologi.
Fungsi PGPR bagi tanaman :
Ø  Mampu memacu pertumbuhan dan fisiogi akar serta mampu mengurangi kerusakan oleh serangga dan penyakit
Ø  Meningkatkan ketersediaan nutrisi lain seperti tembaga, phospat, besi dan belerang.
Ø 
Memproduksi hormon tanaman, menambah bakteri dan cendawan yang menguntungkan buat tanaman.

BAHAN PEMBUAT PGPR
ü  100 gram akar bambu
ü  200 gram terasi
ü  400 gram gula pasir
ü  1 Kg dedak halus
ü  10 liter air
ü 
Penyedap rasa secukupnya

CARA MEMBUAT PGPR
·           Rendam akar bambu dengan air matang 2- 4 hari.
·           Rebus bahan selain akar bambu sampai mendidih selama 20 menit
·           Setelah dingin masukan semua bahan ke dalam jerigen/wadah kemudian tutup rapat.
·           Buka dan kocok – kocok sehari sekali
·          
Setelah 15 hari PGPRsiap digunakan

CARA APLIKASI
o    Saring PGPR
o    Campur 1 liter air dengan 1 liter PGPR
o    Semprotkan PGPR pada lahan yang belum ditanami
o    Ulangi penyemprotan 20 hari sekali.


Pembuatan Pupuk Cair Organik

Pembuatan Pupuk Cair Organik
Bahan dan Alat:
·         1 liter bakteri
·         5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya)
·         0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya
·         1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air
·         30 kg kotoran hewan
·         Air secukupnya
·         Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat

Cara Pembuatan:
Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember. Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember. Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat. Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka.
 Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan. Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya.
Kegunaan:
Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari. Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan.

Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau. 

Pupuk Hijau Organik

Pupuk Hijau Organik

Pupuk Hijau: adalah pupuk organik yang terbuat dari sisa tanaman atau sampah yang diproses dengan bantuan bakteri.
Bahan dan Komposisi:
·         200 kg hijau daun atau sampah dapur
·         10 kg dedak halus.
·         ¼ kg gula pasir/gula merah.
·         ¼ liter bakteri.
·         200 liter air atau secukupnya.
Cara Pembuatan:
Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi.

Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun. Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air. Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata. Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat. Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan. 

Pestisida Hayati

PESTISIDA HAYATI

Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik: adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab dengan lingkungan.
Bahan dan Alat:
·         2 kg gadung.
·         1 kg tembakau.
·         2 ons terasi.
·         ¼ kg jaringao (dringo).
·         4 liter air.
·         1 sendok makan minyak kelapa.
·         Parutan kelapa.
·         Saringan kelapa (kain tipis).
·         Ember plastik.
·         Nampan plastik.
Cara Pembuatan:
Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung). Gadung dikupas kulitnya dan diparut. Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas. Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas. Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian dilakukan penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan.
Dosis:
·         1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air.
·         2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air.
Kegunaan:
·         Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit.
·         Dapat menolak hama dan penyakit.
·         Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami.
Sasaran:
Wereng batang coklat, Lembing batu, Ulat grayak, ulat hama putih palsu.
Catatan: Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau di atas ambang kendali. Penggunaan di bawah batas ambang dan berlebihan dikhawatirkan akan mematikan musuh alami hama yang bersangkutan. Prinsip dari pertanian oragnik adalah keseimbangan alam, lihat tabel dibawah.
Tabel: Beberapa Jenis Hama Padi, Musuh Alami dan Ambang Batas Kendali

Jenis Hama Padi
Musuh Alami
Batas Ambang Kendali
Wereng batang coklat
Kepik, laba-laba
1,5 wereng dewasa tiap rumpun
Lembing batu
Belalang, laba-laba
10 kepik tiap 20 rumpun
Ulat grayak
Semut, tawon, laba-laba
25% daun rusak sebelum umur 60 hari, selebihnya 15% daun rusak
Ulat hama putih palsu
Laba-laba
50 persen daun rusak sebelum umur 20 hari, selebihnya 15%



Pembuatan Kompos


Pembuatan Kompos
Bahan dan Komposisi:
·         100 kg arang sekam berambut
·         200 kg kotoran hewan
·         3-5 kg dedak atau bekatul
·         0,5 kg gula pasir atau gula merah yang dicairkan dengan air
·         0,5 liter bakteri
·         Air secukupnya
Cara Pembuatan:
1.    Arang sekam, kotoran hewan, dedak, dan gula dicampur sampai rata dalam wadah yang bersih dan teduh. Jangan terkena hujan dan sinar matahari secara langsung.
2.    Campurkan bakteri ke dalam air kemudian siramkan campuran di atas sambil diaduk sampai rata. Tutup dengan plastik atau daun-daunan. Tiap dua hari sekali siram dengan air dan diaduk-aduk. Dalam 10 (sepuluh) hari kompos sudah jadi.